Lupa Cara Memaafkan Diri

Detik, menit, jam, hari, bulan, hingga tahun, terus bergulir tanpa pemberitahuan. Lalu, untuk apa kita menunggu “waktu” untuk mengirimkan notifikasi lebih dulu sebelum ia berjalan. Dia bukanlah milik kita. Dan kita bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk memintanya berhenti sejenak, atau bahkan memutar kembali memori yang telah lalu.

Betapa egoisnya Aku, mencoba memahami diri namun menyalahkan waktu. Betapa bodohnya, terus menyia-nyiakan waktu dari Tuhan untuk terus berleha-leha. Harusnya Aku sadar, hidup itu pasti memiliki tujuan. Setiap diri kita adalah bermakna dan istimewa dengan tujuannya masing-masing. Entah apapun itu, harusnya Aku bisa menemukannya. Setidaknya agar Aku tidak menggunakannya untuk sesuatu yang tak berguna dan sia-sia semata.

Sebelum menemukannya, langkah yang harus Aku ambil tentu akan sangat berat. Hingga kepalaku ini dipenuhi dengan tanda tanya yang entah apa artinya bagiku. Bertanya, namun tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa. Bingung, namun tidak tahu harus membicarakannya dengan siapa. Bimbang rasanya, bagai berada di kapal yang tak tahu arah. Terus terombang-ambing diatas lautan, tanpa maju sedikitpun. Hanya angin yang menggerakkan, bahkan sang nahkoda tidak berdaya terhadapnya.

Sejujurnya, jalan itu sudah ada. Berada didekatku, tak jauh dariku. Namun, entah kenapa Aku tidak bisa meraihnya, seakan-akan itu hanyalah ilusi semata. Begitu buram, karena keraguan yang tak berdasar. Nyata, tetapi Aku belum bisa merasakannya hingga saat ini.

Memahami diri sendiri, nyatanya tak seindah apa kata orang. Begitu rumit, namun seketika mudah dan enteng saat kita memahaminya. Kunci awalnya hanyalah harus tahu lebih dulu “siapa Aku”. Pertanyaan yang Aku rasa siapapun itu akan menjawab dengan enteng. “Aku ya Aku, apa lagi?”, atau “Aku ya anaknya ayah dan ibuku, terus apa?”, atau bahkan “Aku ini manusialah, ada-ada aja kamu”. Siapa sangka pertanyaan yang sesungguhnya ditujukan pada pemahaman kita tentang diri, justru menjadi sesuatu yang dikecam oleh orang lain. Dianggap hal yang aneh, atau bahkan sepele.

Ketika merasa salah melangkah, salah bersikap, salah mengambil keputusan, setidaknya Aku harus meminta maaf pada diriku. Bukan malah bersikap tolol dengan menyalahkan hal lain yang bahkan tidak melakukan apapun. Mereka tentu akan bersikap sebagaimana kita bersikap, sebagaimana kita menganggapnya, sebagaimana kita berfikiran tentangnya. Nyatanya musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkunjung

Ternyata Itu Rumit

Rezeki Itu Datang Setelah Dua Hal