Berkunjung
Hamparan
warna biru diselimuti awan tebal hari ini menjadi saksi kedamaian desa
Bulurejo---salah satu nama desa yang terletak di kecamatan Mertoyudan kabupaten
Magelang. Tidak lain adalah kampung halamanku, dimana Aku lahir dan
menghabiskan masa kecil hingga berumur lima tahun. Saat itu keadaan masih
sangat sederhana, sering kali ditinggalkan sendiri dengan alasan ibu yang akan
membantu nenek berjualan di warung. Tentu Aku yang masih tak bisa berkata
apapun, menikmati hari-hariku dengan hanya bermain sesuka hati bersama kakakku
yang setia menemani.
Baiklah,
sebenarnya itu hanyalah cerita lama yang sering kali teringat saat sampai di
tanah kelahiranku ini. Mengingat kembali masa lalu memberiku pelajaran untuk
terus bersyukur atas kehidupan yang semakin baik ini. Hari pertama di tahun
baru hijriyah, Aku dan keluarga memutuskan untuk berkunjung ke Magelang.
Menemani kakek yang sekarang seorang diri, walau hanya beberapa hari saja namun
tentu ini akan berarti.
Tanpa
membuang-buang waktu, Aku dan keluarga pergi ke makam belahan jiwa kakek
setelah sudah cukup lama beristirahat. Ini sudah menjadi kebiasaan kami, bahkan
menjadi suatu kewajiban untuk menyempatkan waktu kesana. Tempatnya tak jauh
dari rumah, namun cukup membuat lelah jika hanya ditempuh dengan berjalan kaki.
Oleh karena itu, kami memilih untuk ditemani motor tua kakek saja, dimana Aku
menjadi penumpang bagi ayah hingga sampai tujuan. Saat kupandangi pemandangan
sekitar, ternyata desa kecilku ini sudah mulai padat penduduk. Tanah luas yang
sebelumnya masih lapang dan menjadi tempat warga mencari rerumputan, kini penuh
dengan rumah.
Meskipun
begitu, cintaku pada desa ini tak berkurang sedikitpun. Karena penduduk desa
yang ramah, baik, penuh kedamaian dan kerukunan yang erat antara mereka. Sebagaimana
keluargaku yang sering berziarah ke makam nenek, begitu juga dengan penduduk
desa yang lain. Aku melihat mereka sering kali membawa sapu saat menuju
pemakaman. Di samping itu, mereka juga tidak pergi sendirian melain juga
bersama angota keluarga yang lain. Bahkan juga tidak jarang mereka membawa
putra maupun putri kecilnya untuk ikut mendoakan para sesepuh.
Disinilah
Aku menemukan kesederhanaan, dan arti keluarga. Sesampainya mereka disana, yang
pertama kali dilakukan adalah membersihkan dedaunan dan kemudian membuang ke
tempat penumpukan sampah berada. Bukan hanya makam keluarganya saja, melainkan
juga makam-makam disekitarnya. Ini menunjukkan sikap ketidakegoisan manusia,
yang tidak hanya memikirkan keluarganya saja melainkan juga yang lainnya.
Mereka yang juga membawa buah hatinya, mengajarkan kita agar sejak dini sudah
mengajarkan anak cucu untuk tidak melupakan sanak saudara yang telah wafat.
Komentar
Posting Komentar