Ternyata Itu Rumit
Teringat bagaimana Aku bercermin setiap hari membuat diri berfikir ulang tentang apa tujuanku bercermin dan bersolek tiap kali aku memandang bayangan itu. Cermin memang memantulkan wujud kita, namun bukan berarti kita bisa menemukan diri kita disana. Entah apa yang Aku rasakan saat ini, merasa kehilangan diriku sendiri. Seakan Aku bukan lagi “Aku”, namun orang lain. Serasa asing dengan bayangan yang ada di hadapan, tampak lebih indah dari apa yang bisa Aku rasakan. Apakah “Kamu” adalah “Aku”? Akankah “Aku benar-benar mengenalmu? Pernahkan kita berbincang sebelumnya? Siapa sebenarnya “dirimu”? (yang sebenarnya kutunjukkan pada diriku sendiri). Pertanyaan-pertanyaan itu seakan terbang melayang di langit pikiran, menatap “diriku” yang terlihat bodoh dan angkuh dengan dirinya sendiri. Di pihak lain, sikap munafik mulai menghinggapi kesadaranku, berbicara kesana kemari tentang banyak hal yang entah Aku melakukannya atau tidak. Merasa hina saat Aku mulai menasehati banyak orang, sedangkan ...