Rezeki Itu Datang Setelah Dua Hal

Ketika mulai dewasa dan menyelesaikan pendidikan yang ditempuh, banyak dari kita tentu akan memikirkan “rezeki”. Tentu kata yang tidak asing bagi kita. Kata yang bagi orang dewasa ini adalah hal yang krusial jika kita akan menapaki bahtera rumah tangga atau hanya sekedar ingin hidup mandiri. Untuk generasi saat ini, Aku rasa hal ini seakan enteng untuk dibicarakan. Tentu hal ini bukan tanpa dasar, karena Aku percaya bahwa keyakinan anak muda saat ini terhadap datangnya rezeki itu meningkat. 

Banyak dari mereka yang kini mulai mencoba peruntungan membuka usaha, entah secara online maupun offline. Aku rasa ini patut diacungi jempol, dan tidak seharusnya kita berkomentar negatif dan meruntuhkan antusiasme ini. Namun, ternyata ada beberapa hal yang terlupakan. Sesuatu yang sepertinya sering terdengar tetapi sulit untuk dilakukan tanpa kesadaran.

Tidak lain adalah Syukur dan Sedekah. Dua hal yang harusnya kita tidak menghilangkan kata “berusaha” karena itu adalah wajib. Apapun yang kita inginkan di dunia, tentu butuh usaha untuk mendapatkannya termasuk juga dengan rezeki. Walau Tuhan telah menentukan seberapa besar rezeki kita, menetapkan takdir sebelum kita meminta. Jangan lupa, bahwa Tuhan akan mengubah nasib kita setelah kita mengubahnya sendiri.

Seperti halnya kecerdasan milik Albert Enstein, Ibnu Sina atau mungkin para filsuf yang kita akui pemikirannya. Semuanya itu tentu karena ada usaha. Mengorbankan waktunya bahkan hingga 13 jam untuk melakukan percobaan, atau 8 jam untuk mengamati sesuatu, juga berjam-jam lainnya untuk beribadah.

Begitu juga jika kita menginginkan rezeki itu datang menghampiri dengan luar biasa dan membuat kita seakan tak percaya. Setelah berusaha maka kita harus bersyukur. Berapapun dan sekecil apapun, itu adalah nikmat Tuhan. Menjadi tanda betapa Ia begitu Pemurah dan Penyayang kepada hamba-Nya. Karena pada saat itulah, Tuhan menyiapkan rezeki yang lain dan memberikannya saat kita membutuhkan.

Selanjutnya adalah kata “sedekah”. Siapa yang tak pernah mendengar banyak ulama yang mengajarkan kepada kita untuk mengamalkannya. Sepertinya itu hampir tidak mungkin, bahkan ketika sekolah kata ini diajarkan sebagai mata pelajaran agama. Kata ini mengingatkan Aku saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika itu, Ibu berkata padaku untuk membagikan apa yang Aku miliki (tidak lain adalah makanan) untuk berbagi dengan kakakku. Ini bukan tanpa alasan, karena dari sinilah Aku mulai melihat mereka---orang tuaku sering berbagi kepada tetangga. Walau hanya sedikit, mereka tetap akan berbagi karena hidup adalah tentang “berbagi”.

Maka begitu orang tuaku mendapatkan rezeki entah berupa uang, makanan, buah, sayur, bahkan saudara baru bukanlah hal yang mustahil dan tanpa sebab. Karena man yazra’ yahsud, siapapun yang menanam dia akan menuai hasilnya. Mungkin ini adalah arti kata mahfudzat yang dulu pernah Aku pelajari saat di pesantren. Aku rasa benar, bahwa terkadang sebuah nasehat tak mampu menyadarkan kita secara langsung. Jika kita tak mengalaminya sendiri dan merasakan betapa mendengarkan apa kata orang sesekali adalah perlu, bahkan kita memang membutuhkannya.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkunjung

Ternyata Itu Rumit