Ternyata Itu Rumit


Teringat bagaimana Aku bercermin setiap hari membuat diri berfikir ulang tentang apa tujuanku bercermin dan bersolek tiap kali aku memandang bayangan itu. Cermin memang memantulkan wujud kita, namun bukan berarti kita bisa menemukan diri kita disana. Entah apa yang Aku rasakan saat ini, merasa kehilangan diriku sendiri. Seakan Aku bukan lagi “Aku”, namun orang lain. Serasa asing dengan bayangan yang ada di hadapan, tampak lebih indah dari apa yang bisa Aku rasakan. Apakah “Kamu” adalah “Aku”? Akankah “Aku benar-benar mengenalmu? Pernahkan kita berbincang sebelumnya? Siapa sebenarnya “dirimu”? (yang sebenarnya kutunjukkan pada diriku sendiri).

Pertanyaan-pertanyaan itu seakan terbang melayang di langit pikiran, menatap “diriku” yang terlihat bodoh dan angkuh dengan dirinya sendiri. Di pihak lain, sikap munafik mulai menghinggapi kesadaranku, berbicara kesana kemari tentang banyak hal yang entah Aku melakukannya atau tidak. Merasa hina saat Aku mulai menasehati banyak orang, sedangkan menasehati diri sendiri saja Aku tak mampu. Begitu sulitkah Aku memahamimu?   

Tentu tak ada hidup bagai surga di dunia, tak ada kebahagiaan yang tidak diikuti dengan kesedihan atau bahkan pengorbanan. Semua butuh perjuangan, walau Tuhan telah menetapkan nikmatnya pada manusia. Bukan perkara bersyukur atau tidak, namun segala hal yang ingin kita dapatkan haruslah diusahakan lebih dulu. Ini perihal mimpi, banyak orang punya keinginan namun kemauan untuk mewujudkannya begitu tipis. Mungkin jika tertiup angin sedikit saja, dia akan terbang tanpa arah dan bisa saja hancur ketika mendarat. Sungguh manusia tak diuntung? Siapa “Aku” yang dengan sikap sombongnya meminta segalanya menjadi “instan”?

Masih saja tergeletak di atas ranjang, masih termangu dengan kedua tangan dikedua pipi, berkhayal membayangkan kesuksesan masa depan, usahapun tak “Aku” lakukan. Ocehan dan pujian seakan sudah kulahap habis tanpa kuresap, seakan semua berlalu bagai angin yang akan hilang begitu saja setelah ia berlalu. Keindahan ini seakan membuktikan betapa “Aku” menjaganya tanpa rasa syukur yang sebanding. Kesempurnaan jadi tujuan, walau nyatanya itu adalah kemustahilan. Untuk apa sempurna? Bukankah sempurna itu hanya milik Tuhan? Lalu kenapa “Aku” mengharapkannya?

Tidak sempurna bukan berarti tidak memiliki kelebihan, memiliki kelemahan bukan berarti tidak memiliki kekuatan. Harusnya “Aku” lebih memandang kenikmatan Tuhan itu lebih sering, menempanya hingga tajam dan utuh. Perubahan memang tidak ada yang tanpa rasa sakit, itulah dunia. Maka harusnya Aku terus bertahan dan berbenah, bukankah ada akal dan hati disana? (menunjuk bayangan di cermin dengan jari tanganku). Sungguh, harusnya kugunakan itu dengan baik dan jangan pilih kasih atau meninggalkan salah satu dari keduanya.

Menjadi super diam kurasa pernah, menjadi super cerewet juga tak dapat kupungkiri, bimbang dengan berlipat-lipat beratnya mungkin juga kulewati. Di pihak lain mendengar orang lain membuat apapun yang kita lakukan serasa kurang, tak pernah cukup. Namun, terkadang dari mereka kita belajar banyak hal, menyadari banyak hal, dan mulai memahami sesuatu yang tak pernah kita hiraukan sebelumnya. Kurasa Aku akan haus untuk itu saat ini, butuh sosok yang lebih dewasa, lebih mengerti dan memahami kondisiku, yang membimbingku dan memberitahukanku jika Aku melakukan salah.

Bagi siapapun yang memiliki sosok itu, sudah seharusnya kalian mensyukurinya. Jangan membuatnya pergi dan mengecewakannya. Kurasa ini saatnya kita sadar bahwa sudah sepantasnya kita jadikan semua tempat menjadi sekolah, dan setiap orang adalah guru. Sungguh itu nasehat yang luar biasa bukan? Aku mendapatkannya dari seseorang yang bisa dibilang seumuran denganku, namun pemikirannya tentu jauh didepanku. Walau Aku pernah mendengar itu saat Aku berumur belasan tahun, tapi kata itu lebih bermakna ketika mendengarnya untuk umurku yang sudah berkepala dua ini.

Satu hal lagi yang kini aku mengerti, kedewasaan memang tidak seperti paket yang tiba-tiba saja datang tanpa kita melakukan apapun. Melainkan kedewasaan adalah proses kita dalam fase-fase kehidupan. Kita tidak bisa memaksakannya, namun kita hanya bisa berusaha untuk membentuk itu saat kita mulai bangun dari rasa nyaman itu. Ketika itu berjalan lancar dan lebih cepat, kurasa hal itu membuat kita lebih cepat pula menemukan makna hidup kita. Inti dari itu semua, mungkin ada yang menganggapnya sebagai jati diri. Ya, mungkin seperti itu. Karena Aku sendiri belum menemukan arti yang sesungguhnya atas diriku.

Namun, jangan berkecil hati karena hal itu. Sebenarnya semua penyelesaian itu sudah ada dalam diri kita, dan bisa saja kita sudah tahu akan hal itu. Sayangnya, kita belum juga bangun dari kenyamanan itu. Belum sadar betapa waktu menggerus proses tumbuh kita, menghilangkan kesempatan-kesempatan yang tidak datang dua kali. Sudah mengerti namun kemauan yang justru hilang saat itu juga. Merenung sesekali kurasa harus dilakukan, berbicara dengan diri sendiri juga tidak ada salahnya. Jika kalian merasa ada kekacauan dalam diri, belum menemukan apa yang kalian cari dalam hidupmu. Jangan berhenti, terus berbenah, kendalikan diri, dan visualisasikan bagaimana dirimu di masa depan. Kurasa itu beberapa hal yang bisa dilakukan, tentu bersama Tuhan kita akan meraih kemenangan sejati.

 


Komentar

  1. Semangat menulis...
    Ternyata memang bakat yang luar biasa anda miliki

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkunjung

Rezeki Itu Datang Setelah Dua Hal